Sabtu, 10 November 2012

Apa Makna Hari Pahlawan Bagimu?


Pahlawan, pahlawan, dan pahlawan. Rupanya kepahlawanan menjadi tema yang sangat digandrungi akhir-akhir ini. Berbagai lembaga kemahasiswaan berlomba-lomba mengusung tema kepahlawanan dalam setiap kegiatan. Seminar bertema kepahlawanan, pelatihan kepemimpinan apalagi, jelas tak mau luput dari kata “pahlawan”. Pun berbagai jenis lomba yang diselenggarakan mulai dari tulis puisi, essay, sampai photografi tak luput dari embel-embel kata “pahlawan”. Wajar saja bulan ini seakan sarat akan kata “pahlawan”, kau tentu ingat kawan, pertempuran berdarah yang terjadi di Surabaya 10 November 1945 lalu. Pertempurn yang menewaskan ribuan nyawa pejuang kita demi untuk kata “merdeka”. Pantaslah jika tanggal 10 November diperingati sebagai hari pahlawan, tapi apa cukup hanya sekadar diingat? Tanpa ada gerak, tanpa ada karya?
“Pahlawan bukanlah orang suci yang diturunkan dari langit ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka tidak harus tercatat dalam buku sejarah atau dimakamkan di taman makam pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka adalah manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang disekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung, karya kepahlawanan adalah tabung jiwa dalam masa yang lama.” Begitu kata Anis Matta dalam bukunya, Mencari Pahlawan Indonesia. Agaknya justru bukan hanya sebatas peringatan, tapi lebih kepada instrospeksi diri, sudahkah kita menjadi pahlawan? Sudahkah kita mempersembahkan karya terbaik kita untuk bumi merah putih ini? Apa yang sudah kita lakukan kawan? Ayo bangkit kawan! Negara ini butuh pahlawan, bukan cecunguk muda yang tak berguna yang hanya menambah keterpurukan negeri.
Cobalah tengok puisi Chairil Anwar yang berjudul Karawang Bekasi ini kawan!

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda, yang tinggal diliputi debu.
Kenang-kenanglah kami.

Lantas, apa cukup sampai di situ Chairil Anwar menulis sajaknya? Tidak kawan, sekali lagi pahlawan tidak hanya sekadar tuk dikenang. Maka pada bait ke sembilan ia berkata,

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami

Begitulah makna hari pahlawan sesungguhnya. Selayaknya tak sebatas tema yang diusung dalam sebuah seminar, pelatihan, atau perlombaan. Kalaupun tema kepahlawanan itu banyak menghiasi berbagai pamflet kegiatan di bulan November ini, semoga semua itu tak berhenti hanya sampai pada sebuah tema yang diusung, melainkan mampu merasuk pada jiwa-jiwa muda kita, membangkitkan gairah kepahlawanan yang sejatinya akan terus bersemayam dalam jiwa kita, karena kata Chairil Anwar kerja belum selesai, belum apa-apa.
Kini, hari ini, tak ada lagi kata “berdiam diri”. Kitalah yang tentukan hari esok, karena pahlawan bisa saja aku, kau, dia, mereka, kita semua.

Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
   kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Ira Damayanti ( pandanwangi156@gmail.com )
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Semarang Angkatan 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar